Showing posts with label Kuala Lumpur. Show all posts
Showing posts with label Kuala Lumpur. Show all posts

Friday, September 6, 2013

Kuala Lumpur - Makassar


Setelah tiga hari jalan-jalan di Kuala Lumpur, saatnya kami kembali ke Indonesia tepatnya ke Makassar. Kami harus bangun lebih awal karena penerbangan kami pukul 10.10. Sekitar pukul 06.00 kami sudah keluar dari penginapan dan segera menuju Stasiun Pasar Seni untuk naik LRT paling pagi menuju KL Sentral. Sesampainya di sana, ternyata pintu Stasiun masih tertutup. Kami harus menunggu sekitar 10 menit sebelum petugas membuka pintu Stasiun. Tak lama kemudian, LRT pun datang dan kami segera naik. Sesampainya di KL Sentral, kami langsung menuju ke tempat bus yang akan menuju bandara LCCT. Pagi itu, bus yang siap menuju bandara LCCT adalah Skybus dengan harga RM10 per orang. Tepat pukul 06.30 bus berangkat menuju bandara LCCT. Perjalanan pagi itu cukup cepat karena hanya memakan waktu sekitar 1 jam dari KL Sentral menuju LCCT. Sesampainya di LCCT, kami segera mencari tempat makan karena belum sempat sarapan sebelumnya.

Di bandara LCCT, counter check-in bagasi sudah dibuka 3 jam sebelum penerbangan. Sebelum ke counter check-in bagasi, kami timbang dahulu barang-barang yang akan dibagasikan mengingat kami hanya membeli satu bagasi ukuran 20kg untuk menampung barang-barang kami bertiga. Sisanya kami bawa ke kabin karena harga bagasi Air Asia cukup mahal jika membeli langsung di bandara. Tarif bagasi Air Asia yang dibeli langsung di bandara bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan dengan tarif bagasi yang dibeli online bersamaan dengan pembelian tiket ataupun pada saat web check-in (pre-book). Harga bagasi Air Asia yang dibeli langsung di bandara untuk penerbangan Kuala Lumpur-Makassar Rp315.000,- untuk bagasi ukuran 20kg. Sementara itu, untuk kelebihan bagasi dikenakan biaya Rp155.000,- per kg. Mahal bukan??? Padahal, bagasi yang dibeli online saat pembelian tiket atau saat melakukan web check-in (pre-book) harganya hanya Rp145.000,-. Untuk mengetahui tarif terbaru yang berlaku di Air Asia bisa dilihat di http://www.airasia.com/id/id/our-fares/fees-and-charges.page# Karena itu, pada saat pembelian tiket online disarankan agar lebih cermat memperkirakan berat bagasi yang dibutuhkan sehingga kita tidak perlu membeli bagasi di bandara dan tidak perlu membayar biaya kelebihan bagasi yang mahal itu. Kami harus antri cukup lama karena waktu itu hanya di buka satu counter check-in bagasi untuk menangani seluruh penerbangan ke Indonesia.

Di bandara LCCT, kita tidak perlu lagi membayar airport tax karena dalam tiket Air Asia sudah termasuk biaya Airport Tax. Jadi, jika kita sudah melakukan check-in online dan tidak membawa bagasi, kita bisa langsung menuju ruang tunggu setibanya di bandara. Di pintu masuk ke ruang tunggu, petugas akan memeriksa tiket dan paspor. Barang bawaan yang diperbolehkan dibawa masuk ke kabin meliputi sebuah ransel (tas punggung) dan satu tas jinjing atau koper yang tidak boleh melebihi ukuran/dimensi dan berat yang telah ditetapkan (berat maksimal 7kg). Petugas akan menegur penumpang yang barang bawaannya terlihat banyak. Di boarding pass yang dicetak melalui check-in online di internet tidak tertulis kita akan menuju pesawat melalui pintu berapa. Namun, kita tidak perlu khawatir karena di setiap pintu keluar sudah tertulis nama kota tujuan penerbangan kita. Pada saat akan menuju pesawat, petugas akan memeriksa kembali paspor dan tiket kita.

Di dalam pesawat, kita diwajibkan untuk mengisi formulir mengenai barang-barang yang kita bawa apakah ada barang-barang terlarang yang kita bawa atau tidak dan apakah barang-barang yang kita bawa jumlahnya melebihi ketentuan yang telah ditetapkan bea cukai. Formulir yang sudah diisi kemudian diserahkan ke bea cukai saat tiba di Makassar. Setibanya di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, kami sempat mengeluh dengan pelayanan di bandara mengingat perbedaan pelayanan yang diberikan yang kalah jauh jika dibandingkan dengan di LCCT. Kami harus antri cukup panjang saat pemeriksaan paspor karena hanya ada dua loket yang dibuka untuk menangani ratusan penumpang. Kemudian, saat menyerahkan formulir bea cukai yang sudah diisi di dalam pesawat, dilakukan lagi pemeriksaan paspor yang menurut saya tidak perlu. Parahnya lagi, petugas yang memeriksa cuma satu dan petugas yang lain hanya berdiri memperhatikan saja.

Akhirnya, acara jalan-jalan di Kuala Lumpur berakhir sampai di sini dan saatnya kembali ke rutinitas semula. Total biaya yang saya keluarkan selama 4 hari 3 malam yaitu dari tanggal 9-12 Maret 2013 di Kuala Lumpur sekitar 2,5 juta rupiah. Sudah termasuk pengeluaran untuk tiket pesawat pulang-pergi Makassar-Kuala Lumpur-Makassar, oleh-oleh untuk teman-teman dan keluarga di Indonesia serta biaya penginapan, konsumsi, transportasi dan tiket masuk wahana selama di Kuala Lumpur. Saat itu, kurs mata uang ringgit terhadap rupiah yang berlaku adalah 1RM = Rp3.180,-


Baca Juga:
Makassar - LCCT - KL Sentral
Kuala Lumpur Hari Pertama (1) : Batu Caves
Kuala Lumpur Hari Pertama (2) : Petronas Twin Tower
Kuala Lumpur Hari Kedua : Putrajaya
Kuala Lumpur Hari Ketiga : Genting Highlands

Wednesday, August 28, 2013

Kuala Lumpur Hari Ketiga : Genting Highlands

Genting Highlands (Tanah Tinggi Genting) merupakan puncak gunung dari pegunungan Titiwangsa di Malaysia serta menjadi tempat resort terkenal dengan nama Resort World Genting. Di resort ini terdapat theme park (indoor dan outdoor), lapangan golf, pusat perbelanjaan, simulator sky diving, hall konser, beberapa hotel dan masih banyak lagi. Resort ini juga menyediakan tempat berjudi (casino) dan merupakan satu-satunya tempat berjudi daratan yang legal di Malaysia. Tidak heran jika tempat ini juga dikenal sebagai 'Las Vegas' nya Malaysia. Untuk mencapai Resort World Genting kita bisa naik bus 'Go Genting' dilanjutkan dengan naik Skyway (gondola atau kereta gantung) yang merupakan kereta gantung tercepat di dunia dan kereta gantung terpanjang di Asia Tenggara. Bagi yang takut ketinggian disarankan untuk menggunakan taksi sehingga tidak perlu naik bus 'Go Genting' dan kereta gantung.

Bus 'Go Genting' dapat kita jumpai di 5 tempat yaitu KL Sentral, Terminal Gombak, Pudu Sentral, Hentian Kajang, dan 1 Utama. Harga tiket bervariasi tergantung dari terminal mana kita berangkat. Tiket bus 'Go Genting' dari KL Sentral harganya RM10.30 sudah termasuk tiket naik Skyway menuju Resort World Genting sekali jalan. Di loket penjualan tiket bus 'Go Genting' juga menawarkan paket seharga RM60 untuk tiket pulang-pergi bus 'Go Genting' dengan Skyway termasuk juga tiket masuk Outdoor Theme Park di Resort World Genting. Secara umum, bus Go Genting berangkat setiap 30 menit sekali. Untuk jadwal keberangkatannya bisa dilihat di http://www.gogenting.com.my/en/express/klsentral.htm 

Bus 'Go Gonting'

Saat itu kami memilih untuk naik bus 'Go Genting' dari Terminal Gombak karena takut kehabisan tiket bus 'Go Genting' yang di KL Sentral. Karena kami menginap di sekitar Pasar Seni, kami naik LRT jurusan Stasiun Putra/Gombak. Dari situ kami pun tetap harus menunggu bus 'Go Genting' berikutnya karena bus yang ada sudah penuh. Untuk sampai di Resort World Genting kita akan melewati jalan yang berkelok-kelok karena merupakan daerah pegunungan. Selanjutnya kita harus antri untuk menaiki Skyway (kereta gantung). Satu Gondola dapat diisi sekitar 8 orang. Namun, pada saat sepi hanya terisi 2 orang atau bahkan dibiarkan berjalan kosong. Dari dalam Gondola kita bisa melihat pemandangan ke bawah. Bagi yang takut ketinggian dan sudah terlanjur naik kereta gantung sebaiknya memejamkan mata selama perjalanan sekitar 15 menit.


Skyway (Kereta Gantung) di Genting Highland

Awalnya, tujuan kami ke Genting adalah untuk mencoba theme park nya. Jadi, kami mulai dengan melihat-lihat indoor theme park di sana. Ternyata, indoor theme park nya berisi wahana-wahana untuk anak-anak sehingga kami hanya foto-foto saja di situ.


Salah satu sudut di Indoor Theme Park Genting

Dalam perjalanan menuju Outdoor Theme Park, kami mampir sebentar di Snow World. Tiket masuk ke wahana ini sebesar RM30. Cek harga terbaru di sini. Sebelum masuk ruangan ini pengunjung harus menggunakan perlengkapan seperti jaket tebal, kaos tangan dan sepatu yang telah disediakan. Pengunjung juga tidak boleh membawa HP maupun kamera ke dalam ruangan sehingga barang-barang tersebut harus di simpan di loker yang sudah disediakan. Suhu di dalam ruangan mencapai -2 derajad Celcius sehingga membuat udara yang dihirup terasa sangat dingin di hidung. Untuk mengabadikan gambar di Snow World dikenakan biaya yang cukup mahal. Pengunjung dapat meminta untuk difoto beberapa kali kemudian memilih foto mana yang akan dicetak. Harga satu lembar foto sebesar RM50 atau sekitar Rp160.000,- sedangkan jika menginginkan file softcopy nya kita harus membayar RM125 atau sekitar Rp400.000,- untuk 20 file foto. 

Suasana di Snow World
Kami terpaksa membeli softcopy foto seharga RM125 itu karena sempat terjadi miskomunikasi mengenai harga foto. Kami tidak jadi mencoba wahana di Outdoor Theme Park karena budget yang akan dipake sudah terkuras untuk membayar softcopy foto di Snow World. Kalo dilihat, Outdoor theme Park di Genting masih kalah kalo dibandingkan dengan Dunia Fantasi (Dufan) baik dari segi wahananya maupun dari segi luas areanya sehingga kami tidak terlalu kecewa karena tidak jadi mencoba wahana di sana.

Outdoor Theme Park Genting (Foto : therewillbeasia.wordpress.com)

Setelah makan di KFC, kami segera menuju ke tempat Skyway berada. Setelah 15 menit naik Skyway, tibalah kami di terminal bus 'Go Genting'. Kami memilih untuk membeli tiket bus 'Go Genting' tujuan KL Sentral karena akan ke Central Market (Pasar Seni) untuk membeli oleh-oleh. Seperti biasa, dari KL Sentral kami naik LRT dan turun di Stasiun Pasar Seni. Dari situ tinggal jalan kaki sekitar 100 meter untuk menuju Central Market (Pasar Seni).

Central Market (Pasar Seni) Kuala Lumpur

Sesuai dengan namanya, di Pasar Seni banyak dijual barang kerajian dan barang-barang bernilai seni. Selain itu juga terdapat gantungan kunci, miniatur menara kembar petronas, kaos kuala lumpur, pakaian, tas, cokelat, dan lain-lain. Jika belum puas belanja di Central Market, kita bisa menuju ke Jalan Petaling dengan jalan kaki sekitar 100 meter. Jalanan ini akan dipenuhi pedagang pada malam hari sampai sekitar pukul 11 malam sedangkan pada siang hari pedagang hanya berjualan di pinggir jalan saja. Harga barang yang ditawarkan cukup murah. Ada yang pedagang yang sudah memberikan harga pas dan ada pula yang menggunakan tawar-menawar terlebih dahulu. Harga gantungan kunci yang paling murah seharga RM5 berisi 6 buah gantungan kunci sedangkan yang kualitasnya  agak bagusan harganya RM10 untuk 6 buahnya.

Suasana Jalan Petaling di Siang Hari


Baca Juga:
Makassar - LCCT - KL Sentral
Kuala Lumpur Hari Pertama (1) : Batu Caves
Kuala Lumpur Hari Pertama (2) : Petronas Twin Tower
Kuala Lumpur Hari Kedua : Putrajaya
Kuala Lumpur - Makassar

 

Monday, July 15, 2013

Kuala Lumpur Hari Kedua : Putrajaya

Putrajaya merupakan pusat administrasi pemerintahan Malaysia menggantikan Kuala Lumpur sejak tahun 1999. Malaysia memindahkan pusat pemerintahan dari Kuala Lumpur ke Putrajaya karena kepadatan penduduk dan kemacetan di wilayah Kuala Lumpur. Putrajaya merupakan kota yang sudah sangat terencana. Dengan arsitektur bangunan yang indah, jalanan yang tertata, serta pemandangan alam yang indah, kawasan ini juga cocok untuk dijadikan tempat wisata. Tidak heran jika Putrajaya menggunakan slogan World's First Intelligent Garden City.

Berhubung kami menginap di sekitar Pasar Seni, untuk sampai ke Putrajaya kami bisa naik bus 573A dengan harga tiketnya RM3.5 atau bisa juga naik bus E1 (Rapid KL) dengan harga tiket sedikit lebih mahal yaitu RM3.8. Kedua bus ini dapat kita jumpai di belakang MyDin. Dilihat dari tingkat kenyamanannya, bus 573A lebih nyaman dibandingkan dengan bus E1. Kedua bus ini berakhir di Putrajaya Sentral. Sampai di terminal Putrajaya Sentral, kami langsung menuju lantai 2 karena jam 11.00 akan ada Best of Putrajaya Tour yaitu tour keliling Putrajaya dengan harga tiket hanya RM1. Murah bukan !!! Best of Putrajaya Tour ada setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 11.00 dan pukul 14.30. Selain harganya yang murah, sambil berkeliling menggunakan bus warna kuning kita juga didampingi oleh tour guide. Tour Guide menjelaskan seputar bangunan-bangunan yang ada di Putrajaya menggunakan bahasa Inggris karena peserta tour berasal dari berbagai negara. Bus akan berhenti di tempat-tempat menarik sehingga kita bisa mengambil gambar di tempat tersebut. Karena waktu tour yang terbatas, kita hanya diberikan waktu sekitar 5-10 menit di setiap tempat untuk foto-foto. Berikut ini beberapa bangunan dan kompleks perkantoran dengan arsitektur menarik yang ada di Putrajaya.


Kementerian Kewangan (Foto : www.ppj.gov.my)

Sayangnya, bus hanya lewat di depan kantor kementerian kewangan sehingga kami tidak bisa mengabadikan gambar di tempat ini.


Jembatan Seri Wawasan


Masjid Putra



Perdana Putra (Kantor Perdana Menteri)


Kompleks Seri Perdana (Kediaman resmi Perdana Menteri)

Perbadanan Putrajaya



Istana Kehakiman

Pemandangan dari PICC (Putrajaya International Convention Center)

Pemandangan dari PICC (Putrajaya International Convention Center)

Sebenarnya masih banyak tempat-tempat menarik lainnya di Putrajaya. Namun, karena cuaca hari itu cukup panas, maka kami memutuskan untuk menyudahi perjalanan kami di Putrajaya. Kalo tadi berangkatnya naik bus 573A, kali ini pulangnya kami naik bus E1 (Rapid KL) karena bus 573A tidak terlihat di Putrajaya Sentral. Kami turun di belakang MyDin.

Karena sudah lapar, kami segera mencari tempat makan di sekitar situ. Kami pilih tempat makan yang banyak pengunjungnya. Karena bingung mau pesan apa, akhirnya kami memesan makanan yang banyak dipesan oleh pengunjung di situ. Menunya cukup unik. Sayangnya, saya lupa namanya. Menunya seperti nasi goreng dengan sayur capcay goreng seafood  dalam satu piring. Saya sih suka dengan menu itu, tapi teman saya tidak suka karena cukup berminyak capcay gorengnya. Ternyata, pelayan di tempat makan itu kebanyakan orang Indonesia. Tepatnya orang Jawa. Pengunjungnya pun kebanyakan juga orang Indonesia yang bekerja di Malaysia. Jadi, setelah tahu bahwa kami juga orang Jawa, pelayannya langsung menggunakan bahasa Jawa saat menanyakan pesanan kami. Lucunya, sang pelayan dengan pede-nya bertanya, "Kerja di pabrik mana mbak?" Hoho... kami dikira TKI rupanya. Dan kami harus menjelaskan kalo kami hanya liburan di Kuala Lumpur.

Friday, June 21, 2013

Kuala Lumpur Hari Pertama (2) : Petronas Twin Tower

Petronas Twin Tower
 
Dari Stasiun Pasar Seni ada dua cara untuk menuju Menara Kembar Petronas. Kita bisa naik LRT dan turun di Stasiun KLCC (Kuala Lumpur City Centre) atau naik bus gratis yang ada tulisannya 'GO KL'. Selain ber AC, bus ini juga sudah dilengkapi dengan wifi sehingga cukup bersahabat dengan para traveller. Bus ini beroperasi dari jam 6 pagi sampai jam 11 malam dengan interval kedatangan sekitar 5 sampai 15 menit.

Free Bus 'Go KL'
Bus Go KL memiliki dua jalur yaitu purple line (Pasar Seni - Bukit Bintang) dan green line (KLCC - Bukit Bintang). Meskipun nama jalurnya purple line dan green line, namun warna bus nya tetap sama yaitu warna ungu. Tidak ada bus yang warna hijau. Yang membedakan hanya tulisan rute yang tertera di bagian depan bus apakah dia purple line ataukah green line. Bus yang melewati Pasar Seni adalah purple line sedangkan yang melewati KLCC adalah green line. Jadi, Jika menggunakan bus Go KL dari Pasar Seni ke KLCC harus transit dari bus purple line ke bus green line. Terdapat 5 tempat transit bus Go KL yaitu di The Weld, Wisma Lim Foo Yong, Pavillion, Starhill Gallery, dan Bukit Bintang.



Jalur Bus Go KL
Waktu itu saya belum tahu jika harus transit untuk sampai KLCC sehingga harus jalan kaki lumayan lama dan cukup melelahkan. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya sampai juga di menara kembar Petronas.

Narsis dulu sambil melepas lelah
Petronas Twin Tower (Menara Kembar Petronas) tingginya mencapai 451,9 meter dan mempunyai 88 lantai. Bangunan ini dirancang oleh arsitek Amerika Serikat yang bernama Cesar Pelli. Menara kembar ini adalah bangunan tertinggi di dunia sejak 1998 sampai 2004, kemudian dikalahkan oleh Taipei 101 (Taipei World Financial Center) yang tingginya mencapai 509 meter. Meskipun begitu, Menara Petronas sampai sekarang masih merupakan menara kembar tertinggi di dunia. Kedua menara ini dihubungkan oleh jembatan yang disebut Skybridge pada lantai 41 dan 42.

Menara ini dibuka untuk umum tiap hari Selasa - Minggu, sedangkan hari Senin tidak buka karena digunakan untuk perawatan gedung. Untuk naik ke menara ini, pengunjung harus membayar tiket yang cukup mahal. Antriannya pun sudah panjang sejak pagi hari sebelum loket penjualan tiket dibuka. Selain Skybridge, pengunjung juga dapat mengunjungi Observation Deck yang ada di lantai 86. Sayangnya, tiket terusan untuk memasuki kedua tempat tersebut cukup mahal. Pengunjung harus membayar tiket seharga RM80 untuk dewasa dan RM30 untuk anak-anak. Saat ini sudah tersedia pembelian tiket online dapat dibeli di https://eticket.petronastwintowers.com.my/

Petronas Twin Tower
Melihat harganya yang cukup mahal, kami mengurungkan untuk membeli tiket naik ke menara. Kami memutuskan untuk melihat menara Petronas di malam hari dari taman Suria KLCC agar bisa sekalian melihat pertunjukan air mancur. Pertunjukan air mancur di diadakan setiap hari pada pukul 21.00 waktu setempat dan hanya berlangsung selama 4 menit. Jadi, jika ingin melihatnya datanglah lebih awal agar tidak ketinggalan. Pertunjukan ini cukup menarik sehingga membuat kami datang lagi besok malamnya.

 Pertunjukan air mancur di taman Suria KLCC

Nah... ini dia pertunjukan air mancur yang berhasil saya rekam.



Setelah puas foto-foto dan menyaksikan pertunjukan air mancur, kami segera mencari tempat makan di mall Suria KLCC. Sayangnya, banyak tempat makan yang sudah tutup mengingat waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Tempat makan yang masih buka hanya KFC, Pizza Hut dan tempat makan cepat saji sejenisnya. Mengingat kami belum makan dari pagi karena keasyikan jalan-jalan, maka kami memilih tempat makan yang menyediakan nasi. Pilihan jatuh pada KFC. Harga makanan di KFC Kuala Lumpur tidak jauh berbeda dengan harga makanan di KFC Indonesia. Untuk menu juga terdapat sedikit perbedaan. Di Kuala Lumpur, kita tidak akan menjumpai nasi putih di KFC karena yang disediakan adalah nasi lemak yaitu nasi yang sudah diberi bumbu. Selain itu, sausnya juga terdiri dari 3 jenis yaitu saus sambal, saus tomat dan saus Thailand. Sayangnya, ketiga jenis saus itu tidak ada yang cocok dengan lidah saya. Rasa saus sambalnya pun berbeda dengan yang ada di Indonesia. Setelah selesai makan, kami segera kembali ke penginapan karena sudah capek jalan-jalan seharian dengan naik LRT.


Baca Juga:
Makassar - LCCT - KL Sentral
Kuala Lumpur Hari Pertama (1) : Batu Caves
Kuala Lumpur Hari Kedua : Putrajaya
Kuala Lumpur Hari Ketiga : Genting Highlands
Kuala Lumpur - Makassar

 

Kuala Lumpur Hari Pertama (1) : Batu Caves

Setelah check in di hotel dan istirahat sejenak, kami langsung memulai acara jalan-jalan di Kuala Lumpur. Tujuan pertama kami adalah Batu Caves. Dari Stasiun Pasar Seni kita harus menyeberang jembatan menuju Stasiun Kuala Lumpur untuk naik kereta KTM Komuter jurusan Batu Caves. Harga tiket KTM Komuter untuk rute Kuala Lumpur menuju Batu Caves sebesar RM1. Akan tetapi, rute kembalinya dari Batu Caves menuju Kuala Lumpur harga tiketnya lebih mahal yaitu RM2 meskipun melalui jalur yang sama. Pada saat itu sedang ada perbaikan jalur kereta KTM antara Stasiun Putra sampai Stasiun Sentul sehingga kereta hanya bisa sampai Stasiun Putra. Penumpang yang akan menuju Stasiun Batu Caves disediakan shuttle bus gratis dari Stasiun Putra menuju Stasiun Sentul. Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan kembali menggunakan KTM Komuter dari Stasiun Sentul menuju Stasiun Batu Caves.

Batu Caves merupakan bukit kapur yang memiliki serangkaian gua, yang didalamnya terdapat kuil Hindu yang digunakan untuk menyembah Dewa Murugan. Kuil ini didirikan oleh K. Thamboosamy Pillai, seorang pedagang India sekitar tahun 1890. Menurut kepercayaan orang Tamil, Dewa Murugan adalah dewa perang dan pelindung negeri Tamil, Tamil Nadu, India. Gua ini juga digunakan sebagai pusat perayaan Thaipusam  yang dilaksanakan pada bulan 'Thai' bulan kesepuluh dalam kalendar Tamil (sekitar akhir Januari atau awal Februari). Menurut kepercayaan mereka, Hari Thaipusam merupakan hari menunaikan nazar dan menebus dosa atau memohon ampun atas dosa-dosa yang telah dilakukan selama ini.

Begitu keluar dari stasiun kita langsung bisa melihat Patung Hanoman yang tingginya sekitar 15  meter. Untuk memasuki kawasan Batu Caves kita tidak perlu membayar tiket masuk alias gratis. Patung Hanoman berada di sebelah kiri pintu masuk berdekatan dengan Ramayana Cave. Sayangnya, saat itu Ramayana Cave sedang direnovasi sehingga tidak dibuka untuk umum.

Patung Hanoman (Foto : panoramio.com)


Sebelum sampai ke gua utama, kita dapat melihat pemandangan kolam ikan dengan taman yang indah. Taman ini berada di sekeliling Museum Cave dan Art Galery Cave yang penuh berisi patung dan lukisan-lukisan tentang dewa-dewa Hindu dan kehidupan Dewa Murugan. Kedua tempat ini dikelilingi oleh taman-taman, kolam ikan, taman burung dengan lebih dari 50 jenis burung dan Reptile Galore yang berisi 100 jenis reptile termasuk ular, kadal bahkan buaya.

Taman di sekitar Museum Cave dan Art Galery Cave

Gua terbesar di kawasan ini disebut Cathedral Cave atau Temple Cave yang berada sekitar 100 meter dari pintu masuk berlawanan arah dengan Ramayana Cave. Di samping pintu gerbang menuju gua ini terdapat Patung Dewa Murugan yang tingginya mencapai 42,7 meter. Untuk mencapai gua ini kita harus melewati 272 anak tangga. Saat mendaki anak tangga, terlihat banyak monyet-monyet berkeliaran. Monyet-monyet liar itu tidak segan-segan merebut barang bawaan pengunjung terutama makanan atau apa saja yang kelihatan seperti makanan. Jadi berhati-hatilah!

Patung Dewa Murugan


272 Anak Tangga menuju Temple Cave

Keadaan di dalam gua hampir sama dengan gua pada umumnya. Bedanya, di gua ini terdapat kuil yang digunakan untuk sembahyang umat Hindu seperti yang ada di film India. Saat itu banyak penduduk keturunan India yang sedang sembahyang di kuil. Sebagai pemeluk agama lain sepertinya tidak seharusnya berada di sekitar situ sehingga kami segera turun setelah istirahat sejenak.

Salah Satu Sudut Temple Cave

Setelah melepas dahaga dengan es kelapa muda, kami segera menuju stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Petronas Twin Tower dengan KTM Komuter. Suasana di kereta cukup sepi. Dalam gerbong kami, tidak ada orang lain selain kami bertiga sehingga terasa seperti kereta pribadi. Kami turun di Stasiun Kuala Lumpur kemudian jalan kaki sebentar menuju Stasiun Pasar Seni.


Baca Juga:
Makassar - LCCT - KL Sentral
Kuala Lumpur Hari Pertama (2) : Petronas Twin Tower
Kuala Lumpur Hari Kedua : Putrajaya
Kuala Lumpur Hari Ketiga : Genting Highlands
Kuala Lumpur - Makassar

 

Tuesday, April 23, 2013

Makassar - LCCT - KL Sentral


Ini merupakan pengalaman pertama saya ke Luar Negeri. Kuala Lumpur adalah tujuan jalan-jalan kami mengingat harga yang ditawarkan lumayan murah. Selain itu, saat ini juga sudah bebas visa untuk memasuki Negara Malaysia. Dengan harga 698.000 IDR kita sudah dapat tiket pesawat promo Air Asia tanpa bagasi pulang-pergi Makassar-Kuala Lumpur-Makassar untuk penerbangan 9-12 Maret 2013. Saat itu saya pergi bertiga bersama teman. Karena pesawat akan terbang pukul 06.35, jadi kami sudah berangkat menuju bandara Sultan Hasanuddin Makassar sebelum subuh.

Berbekal Boarding Pass hasil check-in online yang sudah kami cetak beberapa hari sebelum keberangkatan, kami langsung menuju ke counter check-in Air Asia untuk membayar Airport Tax sebesar 100.000 IDR. Jangan lupa siapkan paspor untuk pemeriksaan. Bagian imigrasi berada tepat sebelum kita memasuki ruang tunggu untuk penerbangan Internasional sehingga setelah mendapatkan cap dari imigrasi, kita harus langsung masuk ruang tunggu. Berbeda dengan penerbangan domestik, untuk memasuki ruang tunggu penerbangan Internasional kita tidak boleh membawa cairan lebih dari 100 ml sehingga terpaksa kami harus membuang minuman yang baru diminum beberapa teguk.

Di pesawat Air Asia terdapat dua jenis tempat duduk yaitu tempat duduk biasa dan hot seat. Hot seat ditandai dengan warna merah pada sandaran kursinya. Hot seat berada di kursi nomor 1-5, 12 dan 14. Untuk duduk di hot seat dikenakan biaya 95.000 IDR. Selain penumpang hot seat, penumpang lain dilarang untuk duduk disitu meskipun kosong. Pramugari tidak akan segan-segan untuk mengusir penumpang lain yang berani duduk disitu. Untuk makanan, tentunya akan lebih murah harganya dan lebih bervariasi menunya jika dibeli online bersamaan dengan pembelian tiket pesawat. Mereka yang sudah memesan makanan online juga akan dilayani terlebih dahulu.

Keadaan di dalam pesawat Air Asia (Foto: blog.penyubiru.com)

Penerbangan Makassar-Kuala Lumpur ditempuh dalam waktu 3 jam 10 menit. Tidak ada perbedaan waktu antara Makassar dan Kuala Lumpur. Keduanya sama-sama menggunakan GMT+8. Padahal kalo dilihat letak astronomisnya harusnya Kuala Lumpur menggunakan GMT+7. Jadi, jangan heran kalo jam 06.00 di Kuala Lumpur baru masuk waktu subuh. Malaysia mulai menggunakan satu zona waktu yaitu GMT+8 sejak tahun 1982 untuk menyamakan waktu antara Semenanjung Malaysia dan Malaysia Timur (yang ada di Pulau Kalimantan).


Di Kuala Lumpur terdapat dua bandara yaitu KLIA (Kuala Lumpur International Airport) dan LCCT (Low Cost Carrier Terminal). KLIA merupakan bandara utama di Kuala Lumpur yang diperuntukkan bagi Full Board Airlines seperti Garuda Indonesia, Singapure Airlines, dll. Disebut Full Board Airlines karena dalam tiket pesawat sudah termasuk fasilitas makan, bagasi dan asuransi. Sementara itu, LCCT dikhususkan untuk Budget Airlines (Low Cost Airlines) seperti Air Asia. Disebut Budget Airlines karena harga yang ditawarkan hanya harga tiket pesawat saja, sedangkan untuk mendapatkan makan, bagasi, dan asuransi dikenakan biaya tambahan. Karena kami menggunakan Air Asia, kami turun di LCCT. (*mulai 9 Mei 2014 Air Asia pindah bandara dari LCCT ke KLIA2)

Setibanya di bandara, kami langsung menuju bagian imigrasi. Karena ini pertama kali saya tiba di luar negeri, jadi diperlukan sidik jari. Di Malaysia, sidik jari yang diambil adalah kedua jari telunjuk kanan dan kiri secara bersamaan. Di bandara juga ada counter yang menjual simcard Malaysia seperti hotlink dan tunetalk. Saya lebih merekomendasikan hotlink. Di counter hotlink, sebelum membeli simcard penjualnya akan memilihkan kartu dengan tarif termurah disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Waktu itu teman saya membeli kartu yang murah untuk panggilan ke Indonesia dengan harga RM15 yang telah berisi pulsa RM10. Dan ternyata benar, pulsanya tidak habis sampai kami kembali ke Indonesia, padahal sudah digunakan untuk ngobrol lama. Tarifnya berbeda dengan kartu hotlink yang saya beli di kios biasa. Mungkin ada yang kode khusus untuk mendapatkan tarif murah itu. Jadi saya sarankan untuk membeli kartu hotlink di bandara saja. Sebelum keluar dari bandara, tidak lupa kami meminta peta di bagian Tourism Information Centre di dekat pintu keluar bandara. 

Dari LCCT menuju ke KL Sentral terdapat 2 jenis bus yang bisa dipilih yaitu Aerobus dan Skybus (punya Air Asia). Harga tiket Aerobus RM8 untuk dewasa dan RM4 untuk anak-anak. Sementara itu, harga Skybus LCCT-KL Sentral sedikit lebih mahal yaitu RM9 untuk dewasa dan RM4 untuk anak-anak. Tentunya kami pilih yang lebih murah yaitu Aerobus. Tiket Aerobus bisa dibeli di counter bandara (sebelum pintu keluar), bisa juga sebelum naik bus. Sementara itu, tiket Skybus bisa dibeli online bersamaan saat membeli tiket pesawat Air Asia atau saat di dalam bus. Jadwal keberangkatan dan harga tiket terbaru Aerobus bisa dilihat di http://www.lcct.com.my/transportation/aerobus/about-aerobus sedangkan untuk Skybus bisa dilihat di http://skybus.com.my/skybus/. Perjalanan dari LCCT ke KL Sentral ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam.

Aerobus (Foto: Simon Hung)

Skybus (Foto: http://www.lcct.com.my)

KL Sentral merupakan sebuah pusat konektivitas antarmoda transportasi terbesar di Malaysia, bahkan di Asia Tenggara. KL Sentral resmi beroperasi pada tahun 2001. Dari delapan jalur kereta api yang melayani Kuala Lumpur, enam di antaranya melalui KL Sentral. Tidak hanya itu, sejumlah layanan kereta api antarkota yang melayani beberapa tujuan ke Bangkok dan Singapura pun berangkat dari KL Sentral. Bahkan KL Sentral pun menjadi tujuan beberapa bus dengan tujuan tertentu. Memasuki KL Sentral, Anda akan merasa seperti berada di dalam sebuah mal dengan aneka makanan hingga restoran cepat saji seperti Mc Donald. Ada pula beberapa toko yang menjual cinderamata, perlengkapan travelling hingga convenient store.

Peta Jalur Kereta Api di Kuala Lumpur (http://www.stesensentral.com)

Saya begitu terpukau dengan sarana transportasi massal di Kuala Lumpur. Mulai dari pembelian tiket sampai jadwal kedatangan kereta dilakukan oleh mesin. Saat membeli tiket, kita tidak perlu mengantri di loket karena di stasiun sudah tersedia mesin khusus untuk membeli tiket. Kita tinggal memilih stasiun tujuan di layar touchsreen dan mesin secara otomatis menghitung berapa harga tiketnya. Kemudian kita cukup memasukkan uang dan mesin akan mengeluarkan tiket beserta uang kembalian. Harga tiket tergantung dari jarak dekatnya stasiun tujuan. Tiket ada yang berupa koin plastik, lembaran kertas dan lembaran plastik. Saat akan masuk stasiun kita tinggal menempelkan tiket pada mesin sensor dan palang pintu akan terbuka secara otomatis. Sementara itu, saat akan keluar dari stasiun tujuan, kita tinggal memasukkan tiket ke dalam mesin. Kita tak perlu menunggu lama karena setiap beberapa menit ada LRT yang singgah. Pintu LRT juga terbuka secara otomatis. Tak peduli apakah banyak penumpang atau tidak, yang jelas LRT ini akan kembali berjalan sesuai dengan jadwalnya.

Membeli tiket di mesin (Foto: rujak06.wordpress.com)

Tiket LRT

Penginapan yang akan kami tempati berada di kawasan Chinatown sehingga dari Stasiun KL Sentral kami naik LRT tujuan Gombak dan turun di Stasiun Pasar Seni. Dari stasiun kami cukup jalan kaki sekitar 5 menit menuju penginapan. Kami menginap di Hotel Petaling yang sudah kami pesan sebelumnya melalui agoda. Harga penginapan ini cukup murah dengan fasilitas yang lumayan untuk kalangan backpacker seperti kami. Untuk kamar triple harga per malamnya hanya RM76. Kamar ini juga dilengkapi dengan private bathroom. Murah bukan? Di tempat lain, dengan harga segitu biasanya kamarnya masih shared bathroom.  Saya agak bingung dengan papan penunjuk jalan di Kuala Lumpur sehingga bertanya dengan penduduk lokal di mana letak Jalan Petaling. Ternyata Jalan Petaling dipadati penjual baik siang maupun malam. Hotel Petaling berada sekitar 15 meter setelah habisnya penjual (setelah perempatan).

Suasana di Jalan Petaling
Tampilan luar Hotel Petaling (Foto: www.agoda.com)